Urgensi Beradab dalam Berilmu


    Bukan rahasia lagi bahwa suatu adab lebih diutamakan daripada suatu ilmu. Banyak orang mempelajarinya tetapi tak sedikit yang mengabaikannya. Sikap seorang yang mengabaikan adab biasanya timbul karena rasa ego yang tinggi, rasa enggan, dan sifat sombong yang sudah melekat. Sebelumnya apa sih definisi dari adab itu sendiri? Berikut beberapa definsi adab:

  • Adab adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, dan, akhlak [KBBI].
  • Adab is courtesy (behavior that is polite and shows respect/polite action), culture (the habit, tradition, and belief of a country), and knowing proper [Cambridge Dictionary].
  • دب-اداب  adalah sopan santun, kehalusan budi bahasa/suatu kebiasaan, etiket, dan pola perilaku yang dianggap sebagai model.

Keilmuan memanglah aspek pembeda antara manusia dan hewan. Tetapi di atas keilmuan masih terdapat adab yang seharusnya dimiliki setiap orang karena sejatinya mencari ilmu adalah kewajiban setiap orang, begitu pula dengan adab. Ada sebuah pepatah mengatakan “Adab dulu, baru Ilmu”. Hal ini menyatakan bahwa seseorang yang hendak mencari ilmu, seharusnya mempelajari adab terlebih dahulu.

            Adab memiliki beberapa jenis seperti adab kepada Tuhan, adab kepada orang tua, adab kepada guru, adab kepada sesama, adab menuntut ilmu, dan sebagainya. Akan tetapi, pada kesempatan kali ini hanya akan membahas satu jenis adab yaitu adab yang harus dimiliki oleh seorang pencari ilmu. Menurut Imam Ghazali dalam kitab Adabu Fiddin dan Ayyuhal Walad, terdapat beberapa adab menuntut ilmu, diantaranya adalah:

1.      Niat karena Allah SWT

Suatu kegiatan selalu diawali dengan niat. Niat dapat dikatakan sebagai tujuan atau maksud dalam mengerjakan sesuatu. Seorang yang berniat karena Allah SWT akan mendapatkan ganjaran akhirat dan dunia, sedangkan seorang yang berniat karena dunia semata maka hanya akan mendapatkan hal dunia. Hal ini sesuai dengan hadis pertama pada Al-Arbain An-Nawawiyah mengenai amalan akan sinkron dengan niatnya.

Dari Amirul Mukmini, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasullullah SAW bersabda,

إنَّمَا الأعْمَا لُ بِا لنِّيَّا تِ وَإنَّما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَا نَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللّهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللّهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَا نَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أوْامْرَأةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهٌ إلَى مَا هَا جَرَ إلَيْهِ

“ Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”

(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, No. 1 dan Muslim, No. 1907]

Dengan kata lain janganlah campuri niat mencari ilmu dengan niat dunia. Niat karena Allah akan selalu menuntun kita kembali ke hal yang benar bahkan Allah akan memudahkan dalam menghadapi suatu tantangan dan cobaan yang dihadapi.

2.      Memilah Memilih Ilmu

Allah telah menyediakan ilmu yang sangat melimpah di muka bumi ini sehingga dapat dipelajari oleh umat manusia. Pada umumnya ilmu dibagi menjadi 2 macam yaitu Ilmu Naqli (Akhirat) dan Ilmu Aqli (Dunia). Pandailah memilah dan memilih ilmu dengan mendahulukan keilmuan yang mendasar. Jika tidak, pemahaman tersebut akan menyesatkan bahkan menimbulkan gangguan mental karena ilmu yang belum sesuai dengan kemampuannya.

Perlu diingat bahwa menuntut ilmu itu wajib memiliki seorang guru sehingga tidak ada kata salah memilih ilmu dan sebagainya. Gurulah yang akan membina seorang murid tentang keilmuan teori dan tingkah laku.

3.      Memperhatikan Sikap Tubuh yang Benar dalam Menuntut Ilmu

Sikap tubuh menjadi salah satu poin utama yang akan menunjang konsentrasi penuntut ilmu. Diantaranya adalah:

  • Menjaga wudu atau dalam keadaan suci
  • Posisi tegak atau tidak tiduran
  • Keadaan siap lahir batin (selesaikan urusan dan singkirkan hal yang akan menganggu saat pembelajaran)
  • Menutup aurat

Saat ini dimana pembelajaran dilakukan secara daring, upayakan agar selalu menjaga sikap di atas. Supaya ilmu yang didapatkan lebih mudah dicerna dan lebih berkah. Enggak percaya??? Yook buktikan sendiri.

4.      Manajemen Waktu yang Baik

Seperti halnya perut kita yang memiliki porsi antara makanan, minuman, dan oksigen, waktu juga perlu diporsi sehingga tidak ada kata overdosis atau stress akibat terlalu lama belajar. Waktu dapat dibagi menjadi tiga yaitu waktu untuk tidur, sholat, dan menuntut ilmu. Biasanya porsi untuk tidur sekitar 6-8 jam, yang perlu diingat adalah kurangi tidur tapi jangan kekurangan tidur.

Seiring dengan kemajuan teknologi banyak media edukasi yang sangat membantu untuk meningatkan pemahaman terhadap ilmu. Jenis media saat ini sudah beraneka ragam dan tampilannya didesain dengan sangat menarik sehingga mudah dipahami. Selain itu, media hiburan juga semakin berkembang pesat. Ada pepatah mengatakan "Semakin tinggi suatu pohon, maka semakin tinggi pula anginnya". Jangan biarkan nafsu mengontrol dirimu dan cegahlah dengan adanya manajemen waktu.   

5.      Ikat Ilmu dengan Menulis

Menulis adalah salah satu cara menjaga ilmu dan meningkatkan pemahaman. Saat ini menulis tak hanya dapat dilakukan di atas kertas. Menulis dapat dilakukan di laptop, android, dan media sosial seperti membuat postingan, snap, dan blog ini. Selain itu, ilmu yang kita dapat melalui internet dapat dengan mudah untuk diunduh atau pun disimpan. Dampak teknologi dapat menjadi negatif atau positif tergantung pengelolaan dan niat pengguna. Sebagai seorang penuntut ilmu sudah sepantasnya bijak dalam bermedia sosial.

Pentingkah beradab dalam mencari ilmu???? Say YES to the answer. 

Kenapa?? Diri kalian bisa menjawabnya tanpa sadar. 

Banyak orang berilmu tanpa harus beradab ko?? Memang, tapi dengan persepsi seperti ini membuktikan bahwa kalian sudah dapat membedakan antara berilmu beradab dengan berilmu tanpa adab. 

Lebih baik manakah? It’s Your Choice

    Pembelajaran daring saat ini dapat mengajari penuntut ilmu untuk mengontrol nafsunya dan bersikap jujur pada diri sendiri. Apakah perilaku saat ini sama dengan pembelajaran saat luring? Mengapa berbeda dan mengapa sama? It’s all your own answer. Sudah saatnya kita bersahabat dengan keadaan saat ini, nikmati dan manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin agar tidak ada kata penyesalan di akhir nanti.

Quote this week

“ DON’T WAIT BE THE BEST TO DO GOOD SOMETHING, DO NOW OR NEVER”

Sumber : Webinar “Adab Menuntut Ilmu” oleh Amar Ar-Risalah

           

 

           


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mikroplastik pada Kosmetik: Wajah Cerah, Ancaman Bagi Laut

Black Hole, Tak Terlihat yang Mematikan